Expenses

3 03 2008

Expenses merupakan konsep flow (outflows) dalam posisi unfavorable, tetapi tidak semua yang unfavorable disebut expenses.

Expenses diartikan sebagai pemakaian barang dan jasa dalam proses mendapatkan revenue. Jadi dalam hal ini ada pemakaian secara fisik atas barang / jasa (expiration) dan adanya nilai barang dan jasa yang dipakai. Dalam hal produknya masih dalam gudang perusahaan disebut transformasi.

Expenses dapat didefinisikan sebagai cost expiration / cost allocation, istilah ini hanya menggambarkan model structural dalam pengukuran akuntansi, yang tidak mencerminkan real-world observation. Komposisi pertanyaan atas expenses sama dengan yang ada di revenue, yaitu bagaimana apa yang harus dimasukan, kapan terjadi (timing).

Apa yang harus dimasukkan sebagai expenses.
AAA tahun 1948 mendefinisikan secara luas yang meliputi operating cost dan loss. Dalam tahun 1957, AAA dengan tegas membedakan expenses dari pada loss, keduanya sebagai expired costs sedangkan losses merupakan expired cost yg tidak berhubungan dengan revenue.

Konsep all inclisive concept if income, melaporkan expenses dan losses pada suatu periode dgn tidak membedakan keduanya dalam menghitung net income. Sebaliknya current operating concept of income tidak memasukkan losses & expenses yg terjadi dalam periode yg lalau tetapi baru dilaporkan dalam periode berjalan, dalam menghitung net income.

Pengertian expenses & offset terhadap capital atau stockholders equity sangat penting, misalnya cost atau biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan penjualan saham bukan merupakan expenses, tetapi merupakan pengurang terhadap hasil penjulan saham. Oleh karena itu klasifikasi terhadap expenses dengan “cost of good sold” “administrative” dan “selling expenses” sangat diperlukan sebagai sarana analisis keuangan.

Bagaimana mengukur expenses
Pengukuran expenses dapat dilakukan dengan melihat dari segi turunnya net assets, yakni pengukuran nilai dari barang / jasa yang dipergunakan, misalnya menurunnya nilai inventory, nilai aktiva tetap. Nilai barang yang terpakai berdasarkan pada nilai tukar atau opportunity costnya.

Pendekatan pengukuran expenses ini adalah untuk menentukan jumlah expense yang harus menjadi beban dalam periode sekarang dan mana yang ditunda sampai ke periode yang akan datang, misalnya biaya sewa, biaya asuransi yang sering mengandung unsur biaya yang harus ditarik ke periode akuntansi berikutnya. Expense biasa diukur dengan historical cost, current measurement seperti replacement cost dan opportunity cost / current cash equivalent.

Historical cost, penggunaan dasar ini karena sifatnya verifiable, karena merupakan pengeluaran kas yang sebenarnya untuk memperoleh suatu barang atau jasa. Jadi historical cost merupakan nilai tukar barang dan jasa pada saat perusahaan memperoleh barang dan jasa tsb. Bila dalam pelaksanaannya historical cost lebih tinggi / lebih rendah dari harga yang sebenarnya (pasar), maka selisih menjadi keuntungan/kerugian dan digabungkan dalam aggregate income (laporan laba/rugi). Kelemahannya, historical cost bukan alat pengukur yang relevan tentang expense dan tidak mungkin adanya pemisahan antara hasil kegiatan dengan gains & losses atas perubahan harga. Dalam hal terjadi tukar menukar asset, maka lebih tepat kalau penilaian digunakan historical cost karena sifatnya yang verifiable.

Current price, pengukur expense lain adalah current price sebagaimana yang digunakan dalam pengukuran revenue. Dengan dasar ini memungkinkan untuk memisahkan antara expense karena untuk usaha memperoleh revenue & losses karena menahan / menyimpan assets, misalnya marketable securities. Penggunaan current liquidation price atau current cash equivalent bisa relevan dalam pengukuran expenses karena harga merupakan opportunity cost.

Timing dari pada expenses.
Dalam kondisi perusahaan yang masih berjalan, penggunaan konsep matching merupakan jalan keluar yang paling tepat untuk menentukan waktu pengakuan expenses. Sedangkan untuk perusahaan yang akan diliquidasi matching concept tidak diperlukan lagi.

Committee AAA tahun 1964 menyatakan : matching concept merupakan proses untuk melaporkan expenses atas dasar hubungan sebab dan akibat dengan revenues.

Direct dan indirect expenses: Pengelompokan expenses dengan nama direct expenses dan indirect expenses untuk memberikan gambaran yang jelas, yaitu direct expenses merupakan expenses yang dilaporkan dalam periode yang sama dengan revenue, sedangkan indirect expenses adalah expense yang dilaporkan pada waktu penggunaan barang/jasa pada saat turunnya nilai ekonomis yang dapat diukur.

Direct matching/product matching, ada beberaoa masalah antara lain:

  1. Identifikasi product cost.
  2. Bagaimana melaporkan expense yang dapat dihubungkan dengan suatu revenue dikemudian hari, tetapi tidak meningkatkan nilai produk.
  3. Bagaimana bisa dimatching bila expensenya terjadi setelah revenue dilaporkan.

Product cost adalah biaya langsung yang terdiri dari bahan baku, biaya tenaga kerja langsung & biaya-biaya lainnya yang langsung untuk produksi.

Organization cost adalah merupakan biaya yang dikelompokan sebagai intangible asset ( biaya yg ditangguhklan / dikapitalisasi).

Net realizable dalam konsep nilai realisasi bersih, dalam hal penjualan dengan installment, maka baik revenue & expense ditunda sampai dengan tagihan diterima. Yaitu dengan mencatat Receivable dengan harga jual & dikredit selisihnya dengan “deferred gross profit on installment”.

Join cost, merupakan cost yang mempunyai kaitan dengan berbagai kegiatan atau bagian sehingga sulit untuk dialokasikan dengan baik. Misalnya seseorang bekerja dibagian personalia kemudian mengerjakan sesuatu dibagian keuangan dan bagian-bagian lainnya, joint cost ini banyak terjadi pada proses produksi pada perusahaan manufaktur yang menggunakan beberapa tingkatan proses produksi baik horizontal maupun vertical.

Konsep alokasi
Konsep alokasi merupakan proses memecah-mecah atau memilah-milah suatu jumlah biaya/pendapatan kedalam bagian-bagian yang lebih kecil kemudian memisahkan dengan dasar periodisasi.

Criteria alokasi menurut Thomas : Additivity, Unambiguity dan defensibility
Additivity, memilah kedalam bagian-bagian yang lebih kecil.
Defensibility adalah dengan membandingkan lebih dulu metode yang paling baik dalam mengalokasi
Unambiguity yaitu mengalokasikan dengan hasil satu perangkat dari bagian-bagian kecil


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: