Liabilities dan pengukurannya

3 03 2008

kerja di internet

Pengertian umum
Dalam praktek akuntansi tradisional, definisi dan penilaian (pengukuran) liabilities (utang) dinyatakan dengan dasar struktur proses akuntansi, pencatatan utang dihubungkan erat dengan proses matching antara expense dengan revenue yang berkaitan dengan expense tersebut dan dengan timing dari revenues.

Penekanan ini saja tidak cukup untuk memberikan arah kepada teori yang kohesif tentang sifat dan pengeluaran utang, yang penting adalah kebutuhan akan identifikasi dan ukuran mengenai utang yang memungkinkan interpretasi ekonomis dan financial dan pengunaan informasi untuk pengambilan keputusan mengenai investasi misalnya prediksi arus kas dikemudian hari serta pengeluaran resikonya.

Sifat liabilities
APB statement no. 4 mendefinisikan utang sebagai, “kewajiban ekonomis yang diakui dan diukur sesuai dengan GAAP”, definisi ini termasuk deferred cedits yang sebenarnya tidak mempunyai makna bagi mereka yang tidak mengetahui struktur akuntansi.

Untuk memberikan interpretasi tentang utang, yang menjadi pertanyaan adalah :
Hal-hal apakah yang menyebabkan timbulnya utang ?.

  1. Apakah utang hanya terbatas sebagai kewajiban hukum atau meliputi kewajiban yang sudah selayaknya dipenuhi (equitable obligations).
  2. Apabila ada hak untuk offset tanpa syarat, apakah kewajiban ini harus dimasukkan sebagai utang.
  3. Apakah harus ada syarat-syarat tentang dapat ditentukannya jumlah kewajiban yang harus dibayar dan ditentukan tanggal jatuh temponya.
  4. Apakah orang atau badan yang akan menerima harus dapat diketahui atau ditentukan sebelumnya.

Konsep timbulnya liabilities
Dalam akuntansi tradisional, pelaporan utang tergantung kepada pentingnya pengukuran sisi debet dari transaksi yang terjadi, misalnya apakah merupakan accrual dari suatu expense, yaitu pengakuan losses, atau penerimaan suatu asset tertentu.

Penekanan terhadap pelaporan income juga bertanggung jawab terhadap timbulnya hubungan yang sebenarnya merupakan akibat dari alokasi biaya, misalnya deffered income taxes payable tidak akan dilaporkan bila tidak ada keinginan untuk melaporkan income taxes.

Sprouse dan Moonitz menyatakan, bahwa liabilities adalah “……kewajiban yang diakibatkan oleh transaksi dimasa lalu dan masa kini dan yang harus diselesaikan dikemudian hari”. Definisi tersebut dapat diartikan sebagai bahwa liabilities merupakan peristiwa (transaksi) yang timbul karena dari transaksi extern perusahaan, sehingga liabilities merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan. Misalnya transaksi karena pembelian barang atau jasa dari perusahaan lain.

AAA-CC Standar tahun 1957 menyatakan : liabilities harus meliputi legal obligation, akan tetapi tidak semuanya legal obligation adalah liabilities. Jadi pengertian ini “kepentingan kreditur merupakan klaim terhadap equity yang timbul dari kegiatan atau peristiwa dimasa lalu dan biasanya dutuntut adanya pengukuran resources perusahaan untuk meyelesaikan”.

Canning, memberikan pengertian liabilities sebagai equitable obligation yaitu : “Suatu liabilities adalah jasa (yang mempunyai nilai uang) dan bagi pemiliknya harus menyerahkan kepada pihak kedua sebagai kewajiban yang bersifat legal atau equitable dan yang secara bersyarat disepakati penyelesaiannya secara penuh atas jasa dimaksud dan yang mempunyai nilai yang sama atau yang lebih besar yang dinilai oleh pihak kedua”. Dalam kasus ini kontrak merupakan pegangan dari kedua belah pihak dan meskipun barang atau jasanya belum diserahkan.

Dari ketiga definisi liabilities tersebut diatas, liabilities meliputi legal dan equitable obligation, khususnya definisi Canning dan Sprouse nad moonitz.

Dengan demikian timbulnya suatu liabilities secara umum dan structural dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Yang timbul dari kelompok biaya (expenses) dimana liabilities dikelompokkan sebagai accrual dari suatu biaya atau sebagai pengakuan losses, contohnya biaya yang masih harus dibayar (utang biaya).
  2. Yang timbul dari kelompok penerimaan (pendapatan), dimana liabilities dikelompokkan sebagai deffered, yaitu liabilities disebabkan adanya transaksi revenue yang diterima lebih dulu, misalnya pendapatan sewa yang diterima dimuka.
  3. Adanya transaksi penerimaan pinjaman dari pihak lain (extern) ditinjau dari accounting entity, misalnya pinjaman dari bank (hipotik), pinjaman dari masyarakat (obligasi).

Untuk point 1 dan 2 dipelakukan demikian dengan tujuan untuk memenuhi konsep matching.

Hak mengoffset tanpa syarat
Untuk kewajiban yang timbul karena kontrak-kontrak masa sekarang untuk pembelian barang-barang atau jasa dikemudian hari, dalam hal tertentu transaksi tersebut dapat dianggap sebagai transaksi keuangan tetapi ada pula yang dianggap bukan merupakan transaksi keuangan.

Bagi kontrak pengadaan barang atau jasa sepanjang masih dalam posisi kontrak dan belum ada realisasi baik pembayaran maupun penyerahan barang atau jasa, pada umumnya para akuntan menganggap sebagai bukan transaksi keuangan dan belum menimbulkan kewajiban bagi kedua belah pihak.

Tetapi ada transaksi yang meskipun belum adanya suatu transaksi penyerahan barang dan jasa namun tetap dianggap sebagai kewajiban dan kontrak tersebut telah mengikat kedua belah pihak, yaitu dalam hal transaksi kontrak pembangunan proyek jangka panjang, antara lain kontrak leasing, dimana pengadaan barang oleh lessor diadakan guna memenuhi lessee. Dengan demikian kontrak ini oleh pembeli tidak dapat membatalkan kontrak tanpa melakukan pembayaran sekalipun barang-barang atau jasa yang belum diserahkan. Jadi dalam hal ini hak mengoffset tanpa syarat adalah timbulnya kewajiban dan hak dari kedua belah pihak atas apa yang diperjanjikan dalam bentuk transaksikeuangan, yaitu pihak penjual berkewajiban menyerahkan barang atau jasa dan pihak pembeli mempunyai hak untuk memperoleh barang atau jasa, dan sebaliknya pada saat barang diserahkan pihak penjual berhak atas pembayaran sedangkan pihak pembeli berkewajiban membayar uang yang diperjanjikan tersebut tidak dipenuhi sebagaimana yang diperjanjikan.

Ciri-ciri dasar liabilities
Dari segi interpretative, liabilities dapat didefinisikan sebagai kewajiban perusahaan untuk menyediakan uang, barang atau jasa kepada pihak lain. Jadi ciri-ciri liabilities adalah :

  1. Kewajiban harus ada pada saat ini, artinya pada saat transaksi pada masa lalu. Kewajiban yang tergantung kepada peristiwa dikemudian hari tidak boleh dimasukkan sebagai liabilities misalnya contingent liabilities, kecuali kalau ada kemungkinan (probabilitas) yang layak bahwa peristiwa tersebut akan terjadi (tingkat kepastian tinggi).
  2. Equitabilitable obligation, harus dimasukkan sebagai liabilities apabila kewajiban ini terjadi karena adanya keharusan membuat pembayaran dikemudian hari demi hubungan dagang yang baik atau adat kebiasaan yang baik dalam dunia bisnis.
  3. Apakah ada hak untuk menoffset tanpa syarat (unconditional right of offset) maka kewajiban yang tercantum dalam kontrak tidak boleh dianggap sebagai liabilities. Tetapi apabila penjual telah terikatuntuk menyerahkan resources sesuai dengan kotrak sebenarnya tidak ada lagi hak untuk meng offset. Misalnya perjanjian kontrak leasehold property oleh pemiliknya merupakan komitment untuk menyerahkan resources untuk disewakan, maka sipenyewa tidak mempunyai hak untuk mengoffset tanpa syarat, meskipun barangnya belum diserahkan seluruhnya.
  4. Harus ada suatu jumlah atau nilai yang jelas dan pasti pada saat jatuh tempo atas kewajiban yang akan dibayar, dan dapat ditaksir secara layak sekalipun timing yang tepat belum diketahui pada saat ini. Proses pembayaran pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara memperpanjang kewajiban atau mengkonversi kewajiban dengan cara berulang tersebut dapat diakui dan diperlakukan sebagai liabilities, dalam hal kewajiban dikonversi dengan stockholder equity maka kewajiban tersebut berakhir.

Penilaian liabilities
Tujuan penilaian utang adalah serupa dengan tujuan penilaian asset, yaitu keinginan untuk mencatat expenses dan loss dalam penentuan current income. Dan penilaian utang juga harus memungkinkan penyajian informasi yang berguna sebagai prediksi dan sebagai dasar perbandingan abtar perusahaan (betriebsvergleich) dan antar waktu dan klaim dari beberapa equity holders.

Liabilities tidak dapat dimasukkan dalam neraca kecuali harus dikuantifikasikan dalam bentuk uang, apabila suatu kewajiban yang nilainya berkisar antara beberapa probable value, maka expected valuenya harus dicantumkan sebagai angka taksiran utang dineraca, dengan demikian penilaian yang relevan adalah current valuation.

Untuk utang jangka panjang disarankan penilaian dengan konsep Yield rate pada saat penerbitan obligasi sebagai tingkat disconto yang seharusnya dipakai.

Contingent liabilities
FASB Statement no. 5 menyatakan : suatu kontigencies adalah “suatu kondisi, situasi atau sekumpulan keadaan yang sekarang ada dan yang mengakibatkan ketidakpastian mengenai kemungkinan timbulnya …losses…bagi perusahaan, yang nantinya akan diselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadi satu atau lebih peristiwa dikemudian hari……selesainya suatu ketidak pastian bisa menegaskan…terjadinya suatu liability”.

Jadi menurut Statement no. 5 ini suatu liabilities harus dilaporkan apabila ada kemungkinan timbulnya kewajiban yang harus dibayar dikemudian hari dan dapat ditaksir secara layak. Oleh karena itu kewajiban bersyarat harus dilaorkan dalam laporan keuangan apabila less than likely atau more than remote.

Deferred credit
APB statement no. 4 menyatakan bahwa deffered credit yang bukan kewajiban juga harus dimasukkan sebagai liabilities apabila deffered credit tersebut sesuai dengan GAAP, untuk deferred incomepun dikelompokkan sebagai liabilities.

Contoh deffered credit seperti ini adalah kelebihan nilai buku (book value) diatas cost anak perusahaan atau sering disebut sebagai “negative goodwill” dan gains dari sale and leaseback property, deffered taxes yang berasal dari taxes allocation, deffered investment credit (misalnya bunga) dan deferred pencion cost.

Tujuan pelaporan deferred credit ini adalah untuk memungkinkan matching antara expense dengan current revenue, atau untuk alokasi ke beberapa periode dikemudian hari sebagai pengurang expense atau penambah income.

Oleh karena itu transaksi deferred credit yang dijelaskan dan dicontohkan diatas tidak setiap orang dapat memahami, kecuali bagi mereka yang paham tentang proses akuntansi dan hal ini tidak mencerminkan suatu real world interpretation economic. Namun demikian GAAP tetap mempertahankan perlakuan akuntansi semacam ini dilihat dari segi behavioral yaitu kemungkinan pergesaran expenses dan income dari period eke periode yang lain.

Ada beberapa pos yang dinamakan deferred credit atau deferred income yang merupakan liabilities akan tetapi dikritik karena namanya tidak menggambarkan isinya, misalnya pendapatan yang diterima dimuka dan kewajiban untuk menanggung biaya dimasa yang akan datang misalnya pemberian jaminan purna jual. Dalam hal semacam ini tidak lain merupakan uang muka yang diterima dari langganan, dan ditinjau dari segi ketepatan nilai jelas kurang pasti jumlahnya dan bersifat estimasi.

Equitability adalah suatu kewajiban yg selayaknya dipatuhi, misalnya pemenuhan kontrak perjanjian.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: